Menjelajahi 14 Desa Wisata di Indonesia Catatkan Rekor MURI 2023, Ada Wisata Esktrem Diving Bareng Hiu Paus

--
Desa Wisata Wukirsari ini berfokus pada pengembangan Edu-Wisata dan Eco-wisata sejak tahun 2007. Secara resmi telah dikukuhkan melalui SK Pemerintah Desa dan SK Pemerintah Kabupaten Bantul sebagai Desa Wisata yang dikelola secara pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan seluruh unsur kemasyarakatan dan di koordinasi oleh Pengelola Desa Wisata Wukirsari.
Berbagai atraksi wisata tersedia di kawasan Desa Wukirsari yang meliputi wisata budaya dan edukasi belajar batik di Kawasan Giriloyo, wisata alam di kawasan pesisir Sungai Opak, Wisata religi di kawasan Makam Raja-raja Pajimatan dan Makam Sunan Giriloyo, serta wisata ekonomi budaya di Kawasan Pasar Tradisional Sor Jati. Selain itu, Dusun Pucung difokuskan pada pengembangan edu-wisata satwa burung berbasis penangkaran burung, serta memaksimalkan potensi kerajinan tatah sungging wayang.
Wisata Belajar Membatik menjadi salah satu unggulan atraksi Desa Wisata Wukirsari yang berpusat di Dusun Giriloyo, Karang Kulon, dan Cengkehan.
Belajar membatik menjadi ajang bagi Wukirsari untuk mengenalkan warisan budaya dunia milik Indonesia yang telah ada di Kawasan ini sejak tahun 1634 silam.
Bukan hanya sekedar ajang wisata, kegiatan ini menitik beratkan pada keterlibatan lebih dari 600 orang perajin batik sebagai pemandu wisata belajar batik, sehingga setiap perkembangan dalam atraksi ini akan berimbas pada meningkatnya taraf hidup masyarakat yang berprofesi sebagai perajin batik.
Jumlah wisatawan tiap tahun yang selalu mengalami peningkatan menunjukkan eksitensi atraksi edu-wisata di bidang batik yang tidak pernah sepi peminat. Dengan jumlah wisatawan mencapai 25.000 orang pada tahun 2018 telah menunjukkan kontribusi nyata dalam menggerakkan ekonomi Desa Wukirsari dalam pemberdayaan wanita dan masyarakat.
Pada awalnya batik tumbuh dan berkembang di tangan para puteri Kraton Yogyakarta dan mayoritas hanya batik ngenggreng saja. Motif batik mulai berkembang setelah kegiatan batik tersebar dan diteruskan di luar Kraton.
Warna yang digunakan tidak lagi terbatas pada putih, hitam, cokelat dan biru tua tetapi berwarna-warni sesuai dengan kebudayaan daerah setempat serta kreativitas para pembatik untuk menmproses penyelesaian batik. Perkembangan pesat Batik di Pulau Jawa terjadi di tahun 1900-1980an dengan tingginya permintaan dan penggunaan batik dalam kehidupan sehari-hari baik kalangan muda maupun kalangan tua.
Sehingga, ratusan tahun kemudian berlalu, Wukirsari masih tetap menjadi satu-satunya desa di Kota Yogyakarta yang tak pernah berhenti melestarikan batik tulis sebagai bagian tak terpisahkan terhadap pengabdian kepada bangsa dan negara.. Selama dua tahun belakangan ini aktifitas desa wisata di wukirsari berhenti karrna kondisi pandemi. Namun alhamdulillah tak sampai mati. Dan mulai tahun 2022 aktifitas desa wisata menunjukkan geliat kembali. Hal ini ditandai adanya kunjungan yang rata rata per minggu tak kurang dari 2500 wisatawan untuk edu wisata batik dan kunjungan wisata belanja batik tulis.(tim)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: