Mau Berinvestasi Obligasi? Berikut Kelebihan dan Kekurangan Berinvestasi Obligasi

Minggu 03-03-2024,14:26 WIB
Reporter : Nur Miessuary
Editor : Nanang Setiawan

Akibatnya, harga obligasi akan turun. Pertumbuhan inflasi yang terkendali biasanya dibarengi dengan kenaikan suku bunga. Hal ini juga menjadi pertanda bahwa perekonomian negara sudah sedikit membaik. 

BACA JUGA:Aksi Unik 2 Aktivis Ormas Bentuk Protes ke KPU Bengkulu Tengah: Pemilu Luber Jurdil, Cayo Dak Yo!

BACA JUGA:Indonesia Masuki Periode Pancaroba, BMKG Ingatkan Waspada Cuaca Ekstrem dan Jaga Kesehatan

Maka tidak mengherankan jika obligasi, terutama obligasi pemerintah, sering kali dipandang sebagai sarana yang nyaman selama resesi. 

4. Risiko pasar dan likuiditas

Risiko pasar obligasi timbul jika investor terpaksa menjual obligasi di pasar sekunder dengan harga kurang dari nilai nominalnya. Hal ini dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk perubahan suku bunga, inflasi, dan masalah likuiditas. 

Sederhananya, likuiditas suatu instrumen investasi bergantung pada apakah instrumen tersebut banyak diperdagangkan. Semakin aktif dan likuid, semakin mudah bagi investor untuk meningkatkan modal investasi. 

Sekuritas hutang, terutama obligasi korporasi, kurang likuid dibandingkan saham dan obligasi pemerintah. Likuiditas yang rendah mengakibatkan volatilitas harga yang tinggi dan jangka waktu pembayaran yang relatif lama. 

Ya, perlu diketahui juga bahwa proses pembayaran Reksa Dana Obligasi memerlukan waktu 2-7 hari kerja. Artinya, instrumen tersebut relatif lebih sulit dilunasi (kurang likuid) dibandingkan reksa dana pasar uang (MMF).(tim)

Kategori :