Tudingan Proyek Tak Sesuai RAB Ditepis, Kades: Jangankan Lapen, Aspal Hotmix Saja Bisa Berlubang!
ilustrasi--
RAKYATBENTENG.DISWAY.ID - Kepala Desa (Kades) memberikan klarifikasi terkait sorotan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Bengkulu mengenai dugaan pembangunan infrastruktur jalan desa Tahun Anggaran (TA) 2025 yang dinilai tidak sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB) hingga menyebabkan kondisi jalan cepat berlubang.
Kades menjelaskan bahwa proyek pengaspalan tersebut merupakan program pembangunan yang sudah berjalan sejak dua tahun lalu.
Menurutnya, kerusakan berupa lubang pada badan jalan merupakan hal yang wajar terjadi seiring berjalannya waktu dan tingginya mobilitas kendaraan.
BACA JUGA:Proyek Posyandu Pekik Nyaring Terancam Dibawa ke Jaksa, Ini Pasal Tipikor dan Sanksi yang Mengintai
BACA JUGA:Sambut Program SMK Go Global, Bupati Rachmat Sebut Ada Peluang Puluhan Ribu Kuota Kerja Luar Negeri
Ia membandingkan bahwa kualitas aspal jenis Hotmix sekalipun bisa mengalami kerusakan dalam kurun waktu dua tahun, terlebih lagi konstruksi jalan kelas desa yang menggunakan metode Lapen (Lapis Penetrasi).
"Kegiatan itu sudah berjalan dua tahun lalu, jadi wajar kalau ada bagian yang mulai berlubang. Jangankan Lapen, aspal Hotmix saja dalam dua tahun bisa berlubang. Teknik itu kita pilih agar anggaran yang minim bisa dicukupkan sehingga kegiatan fisik tetap berjalan. Kalau anggarannya besar seperti Dinas PU, tentu hasilnya bisa lebih maksimal," ujar Kades, Kamis (30/7/2026).
Selain faktor jenis konstruksi dan keterbatasan alokasi Dana Desa, Kades menyebutkan bahwa munculnya titik-titik kerusakan juga disebabkan oleh tingginya lalu lintas kendaraan roda empat pengangkut hasil bumi masyarakat, khususnya Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit.
BACA JUGA:Laporan 12 Desa Pondok Kubang Masih Berproses, Inspektorat Susun Skema Pemeriksaan
BACA JUGA:14 Calon Perangkat Desa Digembleng, DPMD Bengkulu Tengah Perkuat Pemahaman Tupoksi
"Kerusakan atau lubang di jalan tersebut juga diakibatkan oleh seringnya mobil angkutan hasil tani warga keluar-masuk. Dalam satu hari, mobil truk atau pikap angkutan sawit bisa melintas lebih dari satu kali dengan beban berat," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: