Dugaan Keracunan MBG Bengkulu Tengah Terungkap, BPOM Temukan Bakteri Berlebih pada Menu Ayam Kunyit

Dugaan Keracunan MBG Bengkulu Tengah Terungkap, BPOM Temukan Bakteri Berlebih pada Menu Ayam Kunyit

--

 

RAKYATBENTENG.DISWAY.ID – Kasus dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bengkulu Tengah mulai menemukan titik terang.

 

Hasil uji laboratorium Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bengkulu menyatakan salah satu sampel makanan berupa ayam kunyit mengandung bakteri Staphylococcus aureus melebihi ambang batas aman.

 

Kasus dugaan keracunan tersebut sebelumnya menimpa delapan siswa dari SMP Negeri 3 dan SD Negeri 1 Bengkulu Tengah pada 23 April 2026 lalu usai mengonsumsi makanan program MBG yang didistribusikan oleh SPPG Kembang I Bengkulu Tengah.

 

BACA JUGA:Penyelidikan Pengadaan Lampu Berbinar di Bengkulu Tengah Didalami, Polisi Jadwalkan Gelar Perkara

BACA JUGA:Bupati Rachmat Sambut Positif Audisi Film Lokal dan Keberangkatan Pramuka ke Cibubur

 

Kepala Dinas Kesehatan Bengkulu Tengah, Barti Hasibuan, SKM, MM mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium dari BPOM Bengkulu telah diterima pihaknya sejak Kamis, 7 Mei 2026.

 

“Hasil uji sampel dari kejadian dugaan keracunan karena MBG tanggal 23 April lalu, hasilnya sudah keluar dari BPOM hari Kamis 7 Mei 2026. Suratnya juga sudah kita terima. Hasilnya menyebutkan memang ada satu item sampel makanan yang mengandung bakteri Staphylococcus aureus dan melebihi ambang batas. Itu dari sampel makanan ayam kunyit,” ujar Barti.

 

Dalam surat evaluasi BPOM Bengkulu, sampel ayam goreng kunyit kemangi ditemukan mengandung bakteri Staphylococcus aureus sebesar 7,2 x 10? koloni per gram.

 

BACA JUGA:Bengkulu Tengah Perkuat Layanan Kesehatan, RSD Sungai Lemau Hadirkan CT-Scan dan Fasilitas Jantung

BACA JUGA:Banyak OPD Tak Capai 75 Persen Kehadiran Malam Berbinar, Pemkab Keluarkan Surat Teguran

 

Jumlah tersebut dinilai telah melewati ambang batas aman dan berpotensi menyebabkan keracunan makanan.

 

Sementara itu, beberapa sampel makanan lainnya seperti nasi putih, tahu goreng, hingga tumis sayur dinyatakan negatif atau masih berada di bawah batas berbahaya.

 

Barti menjelaskan, bakteri Staphylococcus aureus dapat menghasilkan toksin atau racun apabila jumlahnya telah melampaui batas tertentu.

 

“Kalau jumlahnya di atas ambang batas, dia akan mengeluarkan toksin atau racun yang bisa menyebabkan orang yang mengkonsumsi mengalami keracunan,” jelasnya.

 

BACA JUGA:Dijanjikan Diperbaiki, Aktivis Soroti Retak RKB TK Sayang Bunda: Jangan Sekadar Omdo

BACA JUGA:Bahaya Mengintai! Jalan Licin Akibat Galian C di Tengah Padang Hampir Telan Korban

 

Menurut Barti, kontaminasi bakteri tersebut diduga terjadi akibat kontak langsung manusia dalam proses pengolahan makanan.

 

Selain itu, kualitas bahan baku, penyimpanan, hingga proses memasak juga berpotensi menjadi faktor penyebab.

 

“Kemungkinannya bisa tertular dari manusia yang berhubungan langsung dengan proses pengolahan makanan. Ditambah mungkin kualitas bahan yang sudah menurun, penyimpanan yang kurang mendukung, atau cara memasaknya yang kurang pas,” tambah Barti.

 

Meski demikian, ia memastikan dapur penyedia MBG tersebut sebelumnya telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang diterbitkan Dinas Kesehatan Bengkulu Tengah.

 

BACA JUGA:ASN Tak Keberatan Zakat Lewat Baznas, Minta Pengelolaan Terbuka dan Tepat Sasaran

BACA JUGA:1.382 Pelajar SMA/SMK di Bengkulu Tengah Lulus, Sekolah Tekankan Kelulusan Tanpa Euforia Berlebihan

 

Petugas puskesmas juga disebut rutin melakukan monitoring terhadap kondisi dapur dan proses pengolahan makanan.

 

“SLHS-nya sudah ada, kita yang terbitkan. Petugas puskesmas juga rutin melakukan monitoring dan selama ini kondisinya bagus,” katanya.

 

Hasil laboratorium tersebut kini telah disampaikan kepada Satgas MBG, Badan Gizi Nasional (BGN), hingga pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti lebih lanjut.

 

“Hasil pemeriksaan ini telah disampaikan kepada Satgas MBG, pihak Badan Gizi Nasional (BGN), serta kepolisian untuk ditindaklanjuti,” tutup Barti.

 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: